Makanan sehat ber gizi dari pandangan Pelajar
Makan Sehat Bergizi
Namaku Narendra. Aku siswa kelas 1 SMA Budi Mulia Karawang. Kalau ditanya soal hal yang paling ramai dibahas di sekolah akhir-akhir ini, jawabannya pasti Program MBG, atau Makan Bergizi Gratis. Awalnya aku juga bingung. Tiba-tiba saja sekolah mengumumkan kalau setiap hari tertentu bakal ada pembagian makanan sehat gratis buat semua murid.
Jujur, pertama kali dengar aku langsung mikir, “Serius nih? Gratis?”
Teman-temanku juga sama hebohnya. Zian langsung bilang kalau dia jadi bisa hemat uang jajan. Nathan malah bercanda katanya uang jajannya bisa dipakai top up game. Sedangkan Rizi cuma ketawa sambil bilang yang penting makanannya enak. Kalau Lian beda lagi, dia malah penasaran siapa yang masak makanan sebanyak itu.
Hari pertama pembagian MBG jadi suasana yang gak biasa di sekolah. Dari pagi murid-murid udah ribut sendiri. Ada yang penasaran isi menunya, ada yang takut rasanya aneh, bahkan ada yang berharap dapat ayam crispy kayak di restoran cepat saji.
Pas jam istirahat tiba, beberapa guru mulai memanggil ketua kelas untuk membantu pembagian makanan. Di kelas kami, guru menunjuk aku dan Zian buat mengambil kotak makanan ke aula sekolah.
“Jangan rebutan, satu orang satu ya,” kata Bu Rina sambil ngatur antrean.
Aku dan Zian langsung jalan ke aula sambil bawa keranjang plastik besar. Pas sampai di sana, ternyata rame banget. Banyak murid dari kelas lain juga lagi antre ambil makanan.
Kotak makanannya sederhana, warna putih, tapi aromanya lumayan enak. Hari itu menunya nasi, ayam kecap, sayur wortel dan buncis, sama buah pisang. Memang gak mewah, tapi menurutku cukup lengkap.
“Lumayan juga,” kata Zian sambil ngintip isi kotaknya.
“Iya, gratis lagi,” jawabku.
Pas dibagikan di kelas, suasana langsung berubah kayak jam makan di acara camping. Semua sibuk buka kotak masing-masing. Nathan yang biasanya jajan terus di kantin malah makan paling cepat.
“gila, lapar banget gue,” katanya sambil ketawa.
Menurutku, program ini memang punya banyak dampak baik. Yang paling terasa ya soal hemat uang jajan. Banyak temanku yang biasanya beli gorengan, es warna-warni, atau mie pedas sekarang jadi gak perlu jajan lagi.
Aku juga jadi kepikiran sama beberapa murid yang mungkin gak selalu dikasih uang jajan sama orang tuanya. Dengan adanya MBG, setidaknya mereka tetap bisa makan siang dengan layak.
Selain itu, makanan yang dibagikan juga jelas lebih sehat dibanding jajanan di luar sekolah. Soalnya kalau lihat jajanan sekitar sekolah kadang bikin ngeri juga. Minyak gorengan udah hitam, es warna mencolok, belum lagi makanan yang terbuka kena debu kendaraan.
Karena itu aku sempat berpikir kalau program ini sebenarnya bagus banget.
Tapi ternyata setelah berjalan beberapa minggu, mulai muncul juga masalah-masalah yang bikin program ini ramai dibahas di berita.
Suatu hari pas lagi ngobrol di kelas, Lian bilang kalau dia lihat berita tentang anggaran MBG yang ternyata sangat besar.
“Katanya sampai triliunan,” ucapnya.
Nathan langsung nyeletuk, “Buset, duit segitu bisa buat beli berapa motor.”
Kami semua ketawa, tapi sebenarnya aku juga jadi mikir. Program sebesar ini memang pasti butuh biaya besar. Belum lagi harus dibagikan ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.
Selain soal anggaran, ada juga masalah distribusi. Guru kami pernah cerita kalau beberapa daerah masih susah mendapatkan MBG karena akses jalan yang jauh dan kendaraan yang terbatas.
“Kalau di kota mungkin gampang,” kata Bu Rina, “tapi di daerah terpencil distribusinya gak semudah itu.”
Masalah lain yang sempat bikin heboh adalah soal kualitas makanan. Pernah ada berita tentang makanan MBG yang basi dan ada juga kasus keracunan makanan karena proses masaknya kurang higienis.
Waktu dengar itu, jujur aku agak takut juga.
“Semoga di sekolah kita aman-aman aja,” kata Rizi waktu itu.
Untungnya selama di sekolahku belum pernah ada kejadian serius. Paling cuma ada menu yang rasanya aneh atau kurang cocok di lidah murid-murid.
Pernah suatu hari kami dapat sayur yang terlalu hambar. Nathan sampai bilang rasanya kayak makan rumput.
“Aku gak kuat,” katanya sambil nyerahin setengah makanannya ke Zian.
Karena banyak yang gak habis, tempat sampah kelas jadi penuh sama sisa makanan. Dari situ aku sadar kalau menentukan menu buat ribuan siswa ternyata gak gampang. Selera tiap orang beda-beda.
Selain itu, program MBG juga bikin sekolah punya kebiasaan baru. Kalau dulu tugas piket cuma menyapu dan membersihkan kelas, sekarang ditambah ambil dan membagikan makanan.
Setiap hari ada jadwal siapa yang bertugas mengambil MBG ke aula. Kadang capek juga sih, apalagi kalau kotaknya banyak.
“Ren, bantu angkat sini!” teriak Zian suatu hari.
“Iya bentar, berat banget ini.”
Walaupun begitu, lama-lama jadi terbiasa. Bahkan kadang seru juga karena bisa kerja sama bareng teman-teman.
Di sekolahku sendiri, program ini sebenarnya diterima dengan cukup baik. Banyak murid bersyukur karena bisa makan gratis setiap hari tertentu. Walaupun masih ada kendala seperti rasa makanan yang kadang kurang cocok atau antrean yang panjang, semua tetap dijalani.
Kalau ada murid yang lagi puasa atau gak mau makan, biasanya makanannya boleh diberikan ke teman lain atau dikembalikan ke guru.
Menurutku, MBG memang belum sempurna. Masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Mulai dari kualitas makanan, pembagian yang belum merata, sampai fasilitas sekolah yang kadang belum siap.
Aku juga pernah dengar ada orang yang bilang dana sebesar itu lebih baik dipakai buat memperbaiki sekolah atau memberi beasiswa. Menurutku pendapat itu juga ada benarnya.
Tapi di sisi lain, program ini tetap membawa manfaat besar buat banyak siswa.
Setidaknya sekarang banyak anak yang bisa makan lebih sehat dan gak perlu menahan lapar saat belajar di kelas.
Dan mungkin itu tujuan utamanya.
Kadang sesuatu memang gak langsung sempurna saat pertama dijalankan. Tapi kalau terus diperbaiki, bukan gak mungkin program ini bisa jadi sesuatu yang benar-benar membantu pendidikan di Indonesia.
Aku, Narendra, siswa kelas 1 SMA Budi Mulia Karawang, jadi salah satu saksi kecil dari perubahan itu. Dari yang awalnya bingung karena tiba-tiba ada makanan gratis di sekolah, sekarang malah jadi terbiasa melihat teman-teman antre sambil bercanda membawa kotak MBG ke kelas.
Walaupun sederhana, menurutku kebiasaan itu bakal jadi salah satu kenangan masa SMA yang susah dilupakan.
