Dari Daun Lontar ke Smartboard
Sadar gak sih teman-teman?? Di era teknologi sekarang banyak sekali pengembangan inovasi digital terbaru, seperti handphone, laptop, PC, tablet, dan lain-lain yang semakin canggih, maju, dan modern. Bahkan ada handphone yang baru saja merilis produk dengan pena digital, ada juga handphone yang bisa dilipat. Jadi misalnya kita ingin mengubah bentuk handphone kita, bisa! Sesuai keinginan kita, mau ukurannya besar atau seperti ukuran handphone pada umumnya juga bisa. Artinya, di era sekarang inovasi teknologi akan terus berkembang dan berkelanjutan.
Pada zaman dahulu, nenek moyang kita jika ingin menulis masih menggunakan benda-benda alam, seperti daun lontar sebagai pengganti kertas. Hah? Daun lontar? Apa itu? Daun lontar itu merupakan media menulis yang digunakan untuk membuat naskah pada masa itu. Proses penggunaannya pun sangat rumit. Langkah pertama, daun lontar harus dikeringkan terlebih dahulu, lalu dibuat garis-garis pada permukaannya (nyipat). Setelah itu barulah bisa digunakan untuk menulis.
Teknik menulis yang digunakan adalah teknik ukiran atau toreh dengan alat khusus bernama pengrupa, yaitu pisau kecil bermata tajam. Setelah selesai menulis, apakah tulisan tersebut bisa langsung dibaca? Ternyata tidak, teman-teman. Masih ada proses pewarnaan atau pangeluk agar goresan tulisan dapat terlihat jelas dan mudah dibaca. Tahap terakhir adalah proses penyusunan dan penyimpanan. Daun-daun yang sudah ditulis diberi lubang di bagian tengah, kemudian disatukan menggunakan tali dan diapit dengan papan kayu. Agar tidak mudah rusak, naskah disimpan di tempat khusus dan dibungkus kain.
Selain daun lontar, zaman dahulu masyarakat juga menggunakan batu sebagai media menulis. Biasanya batu digunakan untuk menulis undang-undang, sumpah, atau sejarah penting yang dikenal sebagai prasasti agar tahan lama. Contohnya adalah Yupa pada Kerajaan Kutai, yaitu tugu batu bertulis yang menjadi bukti sejarah tertua di Indonesia. Ada juga Prasasti Ciaruteun dari Kerajaan Tarumanegara yang memiliki ukiran tulisan Pallawa berbahasa Sansekerta.
Tidak hanya itu, papan tulis pada zaman dahulu pun masih terbuat dari kayu yang dicat hitam atau batu lempengan, dan alat tulisnya masih menggunakan kapur. Karena itu, perkembangan teknologi digital sangat dibutuhkan agar segala aktivitas manusia menjadi lebih mudah, praktis, cepat, dan modern.
Kondisi perkembangan era saat ini sebenarnya sudah jauh lebih baik dan lebih canggih dibandingkan sebelumnya. Bahkan baru-baru ini muncul Program milik bapak presiden kita, judulnya yaitu Digitalisasi Pembelajaran untuk Indonesia Cerdas. Inisiatif ini meluncurkan penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) atau smartboard guna mentransformasi metode belajar mengajar di seluruh sekolah dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi lebih interaktif, modern, dan merata.
Perkembangan teknologi digital tersebut juga mulai dirasakan di lingkungan sekolah saya. Bahkan sekarang proses pembelajaran sudah mulai menggunakan media modern seperti smartboard. Dari situlah saya mendapatkan pengalaman menarik yang sangat berkesan.
Salah satunya pengalaman pribadiku, jadi begini ceritanya. Awal bel berbunyi, suara nyaring bel sekolah membuat obrolan berhenti, memanggil kami untuk segera kembali ke dalam kelas dan memulai pelajaran, pelajaran pertama adalah pelajaran yang tidak disukai oleh kebanyakan orang, yapp MTK, namun menurutku matematika ini adalah pelajaran yang cukup gampang tapi gak begitu mahir juga, disini saat pelajaran berlangsung kami belajar materi tentang simpangan rata-rata, dibagi menjadi dua, ada simpangan rata-rata data tunggal dan ada data kelompok. ketika guru menjelaskan saya memperhatikan dengan seksama, step by step apa yang guru terangkan. lalu guru memberikan beberapa soal kepada kami, kemudian kami mengerjakan, dalam mengerjakan kami mencari terlebih dahulu apa saja yang diketahui, setelah itu apa yang ditanyakan, baru mencari jawaban dengan menggunakan rumus yang sesuai, angka demi angka sudah kami perhitungkan sampai dimana titik hasil ditemukan.
Selesai sudah pelajaran MTK, lalu guru MTK keluar dari kelas, kemudian dilanjut dengan pelajaran bahasa indonesia, tapi disini pelajaran sudah selesai duluan karena gurunya tidak masuk kelas, yang artinya jamkos (jam kosong). Ini lah waktunya pelajaran yang di tunggu-tunggu yaitu pelajaran pendidikan pancasila atau singkatnya PPKN, kenapa ditunggu-tunggu kan pelajarannya biasa-biasa saja?? Karena pelajaran ini yang pertama kalinya belajar dengan menggunakan media Smartboard, yang berada di ruang multimedia.
Saat itu kata guru PPKN saya berkata ketika di kelas “anak-anak hari ini kita belajar nya di ruang multimedia yaa.., yang ada Smartboard nya.” Setelah berkata begitu, langsung serentak anak-anak yang ada di kelas berlarian menuju ruangan itu, sesampainya di ruang multimedia anak-anak melepas tali sepatu mereka, kemudian ketika masuk ke dalam ruangan, mereka saling berebut meja paling depan, karena agar bisa melihat layar smartboard nya lebih jelas, waktu itu guru PPKN membahas materi Ius Soli dan Ius Sanguinis dengan menggunakan video animasi, nah.. saat itu anak-anak perlahan-lahan mulai mengerti dengan materi tersebut. Karena metode pembelajaran yang digunakan berupa video animasi sehingga anak-anak dapat memahami jauh lebih efektif dan mudah.
Sesudah pelajaran PPKN, denting panjang bel terakhir berbunyi, seolah memberi aba-aba bahwa saatnya melepas penat dan bersiap menyambut akhir pekan. lalu semua keluar dari ruangan itu dan mengikat kembali tali sepatu mereka, termasuk saya. Akhirnya mereka semua kembali ke rumah mereka masing-masing.
Demikian dari cerita ini bisa dipetik hikmahnya bahwa dengan adanya program tersebut, kegiatan belajar di sekolah sekarang jadi terasa lebih menarik dan menyenangkan. Guru tidak hanya menjelaskan menggunakan papan tulis biasa dan spidol, tetapi juga bisa menampilkan video pembelajaran, animasi, gambar, bahkan kuis interaktif melalui smartboard. Jadi anak-anak lebih mudah memahami materi pelajaran karena pembelajaran terlihat lebih nyata dan tidak membosankan.
Harapan saya, dengan adanya program digitalisasi smartboard ini, dapat menciptakan anak-anak yang lebih berkualitas, baik dari kemampuan pemahamannya, daya berpikirnya, penalarannya, maupun kreativitasnya. Karena anak yang berkualitas lahir dari guru yang hebat dalam mengajar dan didukung dengan fasilitas pembelajaran yang modern, menarik, dan mudah dipahami.
