Generasi Emas Berawal dari Makanan Bergizi
Pernah gak sih…teman-teman, mendengar beberapa program dari pemerintah, salah satunya adalah program MBG?? Fasilitas program yang disediakan oleh pemerintah untuk siswa-siswi di sekolah, mulai dari tingkatan PAUD hingga SMA/SMK, santri, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Serta program milik bapak presiden, yang dikenal dengan julukan bapak gemoy. Pastinya teman-teman gak asing mendengar hal itu. Program yang sering dijadikan meme atau postingan lucu di sosmed (sosial media), dibuat game juga, dijadikan gif-gif di instagram juga, bahkan sampai ada lagu kritikan pemerintah mengenai MBG ini.
Memang teman-teman umumnya kebanyakan orang kurang suka dengan program MBG ini, ada yang berpendapat dari non-pemerintah (ICW). Menurut ICW, implementasi program sarat masalah, mulai dari lemahnya standar operasional hingga potensi penyalahgunaan untuk kepentingan politik. “Respons kami dari ICW dan teman-teman koalisi poinnya, kita mendorong untuk program ini dihentikan, kemudian dievaluasi total, pun juga dalam konteks misalnya nanti pendampingan kerugian dari penerima manfaat,” kata Staf Divisi Riset ICW Eva Nurcahyani.
ada juga salah satu netizen yang menyatakan kalo program MBG ini hanya buang buang anggaran saja, padahal lebih baik anggaran ini di berikan kepada guru-guru honorer yang masih kurang dari segi finansialnya, kebutuhan hidupnya, biaya hidupnya, belum lagi yang sudah punya anak di rumah, anak-anak juga pasti harus dibiayai hidupnya, seperti makannya, minumnya, terutama pendidikan sekolahnya karena menurutku pendidikan sekolah ini jauh lebih penting, kenapa?? sebab itu sebagai penentu kedepannya mau jadi apa? dan mau apa? kan gitu.
merambatkan masalah-masalah nya, tapi teman-teman sebenarnya program MBG itu tujuannya baik lohhh, selain meningkatkan gizi anak indonesia, menurunkan angka stunting dan malnutrisi, mendorong pendidikan, serta mengurangi angka kemiskinan. jadi Bapak prabowo sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mencetak generasi-generasi emas indonesia 2045.
Di balik itu juga MBG bukan sekedar makanan, tapi di dalam isi nya terdapat kandungan atau gizi yang seimbang, tentunya baik untuk tubuh manusia, seperti karbohidrat sebagai sumber energi utama, terus ada protein sebagai pertumbuhan otot dan memperbaiki jaringan tubuh, terus juga ada lemak sebagai pembantu penyerapan vitamin, ada lagi namanya vitamin dan mineral sebagai penjaga kesehatan secara menyeluruh, lalu yang terakhir terdapat serat dan air sebagai pencernaan dan hidrasi.
jadi tidak ada lagi tuh makanan-makanan yang terbuang sia-sia, karena makanan gak enak lah, hambarlah, lembeklah, baulah.
Teman-teman kalian diluar sana masih banyak lohhh yang belum pernah sama sekali merasakan kenikmatan MBG dari program pemerintah, hanya di beberapa pulau yang bisa mencicipi rasa, aroma, kenikmatan dari MBG. Karena program MBG ini masih belum merata teman-teman, dari sabang sampai merauke aja belum. Maka dari itu tantangan pemerintah harus bisa menyebar luaskan MBG secara menyeluruh dengan bijak dan benar, agar siswa-siswi bisa merasakan program MBG dari pemerintah.
Sepatutnya kita pun harus bersyukur apa yang telah tuhan berikan kepada kita berupa makanan yang entah dari mana muncul seketika, secara gratis tis.. tis… Pada hakikatnya apa yang kita makan harus dihabiskan, apalagi jelas didalamnya terdapat gizi-gizi yang berkhasiat.
Baik itu makanan yang kita suka ataupun tidak. Tetap harus dimakan, ya… setidaknya makanlah sedikit atau sebagian yang dimakan, pol-pol nya tidak bisa dimakan, kasih ke teman nya yang masih mau nambah atau jika temannya sudah kenyang. maka solusi terbaik adalah dijadikan makanan untuk maggot-maggot, karena maggot ini selain mengurangi sisa-sisa MBG yang terbuang, juga bisa dijadikan inovasi pakan ternak untuk hewan ternak, bisa sebagai media tanam juga. selain itu sisa makanan nya bisa dijadikan inovasi pupuk tanaman yang sangat bermanfaat, dari bekas cangkang telur dan kulit buah.
Ada satu kisah nyata yang membuatku bisa mengambil beberapa hikmah dari situ, ketika aku terjadwal piket mengambil MBG sama teman-temanku, aku mengambil di depan ruang BK, kemudian bertemu guru BK, biasanya yang jaga ganti-gantian antara Pak guru atau Ibu guru, pastinya guru BK dan aku berkata “Bu mau ngambil ompreng MBG nya 6 ikat+3 ompreng ibu (1 ikat = 5 ompreng MBG).” Lalu ibu guru BK menjawab “Baik, nih dek 6 iket sama 3 ompreng MBG nya ya..udah pas kan ompreng nya? Coba dihitung lagi.” kemudian aku menghitung dengan teliti tapi dalam hati *1..2…3….4…5…6… sama tambah 3 ompreng, sip ternyata udah pas*, aku berkata lagi “Udah pas bu ompreng MBG nya, gak kurang dan gak lebih.” Habis itu ibu guru BK berkata juga “Oke kalo gitu, bawanya hati-hati ya..dek takutnya ke buka talinya terus jatuh tumpah kemana-mana makanannya, malah jadi mubazir gak kemakan.” Kemudian aku menjawab “Iya bu aman kok, kami bawanya hati-hati sampai ke kelas.”
Setelah itu kami berangkat, ditengah perjalanan kami bertemu beberapa teman, mereka ini sekelas dengan kami, adapun mereka pergi ini karena mau jajan ke kantin. Lalu teman ini berkata “eh lauk MBG hari ini apa? enak gak? coba buka ompreng nya.” Biasanya kalo yang keluar spaghetti pasti di kelas sudah habis duluan karena makanan yang paling enak ya..itu, apalagi suka di sebut-sebut ‘makanan eropa, makanan eropa’ langsung tuh pada gercep ngambil ompreng nya, ditambah kalo ada yang lagi puasa, temannya langsung bilang “ompreng nya buat aku aja ya..kan kamu lagi puasa.” Oke lanjut cerita, ketika dibuka ternyata lauknya tidak sesuai ekspektasi kita, yahh.. betul kurang enak. Kemudian kami yang piket menjawab “keknya lauk kali ini kurang enak cuy, jadi ya.. tetap kalo bisa dimakan biar berkah.” lalu temanku berkata “iya sih, ya udah kalo gitu mau gimana lagi, rezeki gak boleh ditolak kan.” Kami yang piket berkata juga “iyapp, betul sekali nilai 100 buat temanku.”
Selepas itu mereka temanku pergi ke kantin dan kami lanjut berjalan menuju kelas kami, sesampainya di kelas kami menaruh ompreng MBG nya ke lantai pojok belakang, lalu satu persatu dari kami mengambil ompreng MBG itu dan makan, ada yang gak makan karena gak enak, ada yang puasa. lalu diapakan sisa makanan itu? Kami bagikan yang masih mau makan atau dikembalikan ke guru BK lagi, terpaksa guru BK harus membuang sisa makanan yang gak kemakan.
Dari sini bisa ditarik hikmah teman-teman sesuai apa yang saya sampaikan bahwa sisa-sisa makanan bisa dibuat pupuk tanaman atau makanan maggot dan selalu bersyukur apa yang tuhan berikan kepada kita semua.
Harapan : Mudah-mudahan di lain cerita program MBG ini bisa mencetak generasi-generasi emas 2045 yang unggul dan bisa mengabdi tanah air di masa berikutnya.
