cerita pendidikan M.Arrafi Al Ghifari tentang Digitalisasi Pembelajaran
Suatu hari di ruang kelas kami sedang belajar seperti biasanya. Guru menjelaskan materi dan menuliskannya di papan tulis. Penjelasannya memang lengkap, tetapi karena terlalu panjang dan monoton, beberapa siswa mulai merasa bosan, bahkan seperti sedang mendengarkan dongeng pengantar tidur. Akibatnya, ada yang mengantuk hingga tertidur saat guru masih menjelaskan. Mungkin pengalaman seperti ini juga pernah kalian rasakan di sekolah? Jika terus terjadi seperti ini, bagaimana siswa bisa memahami pelajaran yang disampaikan gurunya? Jangankan siswa yang tidur, siswa yang tetap terjaga saja belum tentu semua materi bisa masuk ke kepala. Wajar saja jika banyak siswa zaman sekarang lebih suka hal yang praktis dan tidak berbelit-belit, sementara cara penyampaian guru terkadang terlalu rumit dan monoton.
Saya sendiri juga pernah mengalaminya. Kadang saat guru menjelaskan, pikiran tiba-tiba melamun entah ke mana. Tahu-tahu guru sudah memberi tugas, dan akhirnya tangan langsung sibuk membolak-balik buku untuk mencari jawaban.
Sampailah pada suatu hari saat pelajaran fisika. Guru saya datang ke kelas hanya membawa daftar absen, dan kami pun berpikir bahwa itu akan menjadi jam kosong. Kami kira beliau hanya akan mengabsen lalu pergi. Namun ternyata, keseruan yang terjadi justru lebih seru daripada jam kosong biasa.
Guru saya menyuruh kami pergi ke ruang multipedia. Kami langsung berjalan ke sana dengan penuh rasa penasaran. Di dalam ruangan itu kami melihat sebuah layar besar seperti televisi, tetapi bentuknya juga mirip papan tulis. Di sanalah guru kami menjelaskan bahwa alat tersebut bernama smartboard atau Interactive Flat Panel (IFP). Benda ini merupakan papan tulis digital yang sekilas terlihat seperti televisi, tetapi dapat digunakan dengan sentuhan tangan untuk menulis, menampilkan materi, bahkan memutar video pembelajaran.
Pada saat itu guru saya mulai menjelaskan materi fisika menggunakan smartboard tersebut. Beliau menampilkan sebuah video pembelajaran yang sangat mudah dipahami oleh kami. Rasanya sangat berbeda dibandingkan ketika materi hanya dijelaskan lewat ucapan saja. Biasanya fisika terasa sulit dan membingungkan, tetapi saat menggunakan alat ini penjelasannya menjadi lebih sederhana, bahkan terasa semudah pelajaran saat SD.
Semua siswa terlihat lebih fokus dan tidak ada yang tertidur. Mereka benar-benar memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru kami. Suasana belajar pun menjadi lebih seru dan tidak membosankan. Saat mengerjakan tugas juga terasa lebih cepat, karena materi yang dijelaskan sudah dipahami dengan baik oleh para siswa.
Selain untuk menampilkan pembelajaran, smartboard ini juga membantu memberikan langkah-langkah praktikum dengan lebih jelas. Saat pelajaran kimia misalnya, kami dapat melakukan praktik dengan lebih mudah dan menyenangkan karena semua tahapan ditampilkan secara detail di layar. Hal itu membuat kami lebih paham dan tidak kebingungan saat melakukan percobaan.Kami juga bisa mengerjakan tugas sambil mendengarkan lagu agar suasana belajar terasa lebih santai dan tidak membosankan. Bahkan ketika ada materi yang kosong atau belum ada tugas, guru sering memutar film edukatif yang tidak kalah seru dibandingkan film-film
lainnya. Dengan cara belajar seperti ini, suasana kelas menjadi lebih hidup dan siswa lebih semangat untuk belajar.
Oh ya, guru saya juga sempat jelasin asal-usul smartboard ini. Ternyata alat ini berasal dari program pemerintah yang tujuannya buat mempermudah siswa Indonesia belajar sekaligus kasih akses digital ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Tapi sayangnya, belum semua sekolah bisa dapet alat ini, terutama sekolah di daerah pelosok yang masih susah akses jalan, listrik, dan internetnya. Padahal anak-anak di pelosok juga sama-sama anak Indonesia yang berhak dapet pendidikan bagus.
Makanya Presiden Prabowo Subianto bikin program Digitalisasi Pembelajaran dengan menghadirkan Papan Interaktif Digital atau smartboard ini. Pemerintah lebih dulu memprioritaskan sekolah di wilayah 3T, yaitu daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar supaya mereka juga bisa merasakan belajar pakai teknologi modern kayak sekolah di kota.
Katanya nanti papan digital ini bakal dibagikan bertahap ke banyak sekolah di 38 provinsi Indonesia. Buat daerah yang masih susah listrik dan internet, pemerintah juga nyiapin bantuan seperti panel surya supaya alatnya tetap bisa dipakai.
Menurut saya, smartboard ini keren banget karena bisa membantu sekolah yang masih kekurangan guru atau fasilitas belajar. Di dalamnya ada video pembelajaran, buku digital, dan materi interaktif yang bikin belajar jadi lebih gampang dipahami dan nggak ngebosenin. Program ini juga sudah diresmikan langsung di SMPN 4 Kota Bekasi dan terhubung dengan sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia secara virtual.
Jadi, jangan khawatir ya buat kalian yang sekolahnya belum mendapatkan smartboard ini. Pastinya nanti sekolah kalian juga bakal kebagian, karena program ini dilakukan secara bertahap ke seluruh Indonesia. Semoga ke depannya semua siswa, baik di kota maupun di pelosok, bisa merasakan belajar dengan fasilitas yang lebih modern dan menyenangkan.
Saya sendiri belum merasakan dampak negatif dari smartboard ini di sekolah saya. Tapi menurut teman saya yang sekolahnya berbeda, ada beberapa siswa yang masih kurang paham teknologi. Saat disuruh maju ke depan untuk menulis di smartboard, mereka jadi grogi dan bingung harus bagaimana.
Bukan cuma siswa saja, beberapa guru juga ada yang mengalami hal yang sama. Ada guru yang belum terlalu mahir menggunakan teknologi, jadi agak kesulitan untuk mengikuti perkembangan pembelajaran digital ini. Karena itu, baik siswa maupun guru harus mulai belajar dan memahami teknologi supaya tidak tertinggal oleh perkembangan zaman yang semakin canggih.
smartboard atau papan interaktif digital sangat membantu proses pembelajaran menjadi lebih menarik, mudah dipahami, dan tidak membosankan. Dengan adanya video, materi interaktif, serta tampilan digital, siswa menjadi lebih fokus dan semangat belajar dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan guru secara biasa. Selain itu, smartboard juga membantu praktikum dan memberi akses pembelajaran modern bagi sekolah-sekolah di Indonesia, termasuk daerah pelosok melalui program pemerintah.
Namun, penggunaan teknologi ini juga memiliki tantangan, karena masih ada siswa dan guru yang belum terbiasa menggunakan teknologi digital. Oleh karena itu, baik siswa maupun guru harus terus belajar dan mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal di era yang semakin canggih ini.
